ngawi-ngawi.desa.id- Tradisi Nyadran kembali digelar oleh warga Dusun Ngawi pada 17 Februari 2026 di Punden Mbah Rogo. Ritual sakral yang dilaksanakan setiap bulan Ruwah ini menjadi bagian penting dari warisan budaya yang terus dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Kegiatan ini selalu dinantikan karena sarat nilai spiritual, sejarah, dan kebersamaan.
Kasun Ngawi menjelaskan bahwa tradisi Nyadran tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga cerminan harapan warga untuk masa mendatang. Ia menyampaikan bahwa masyarakat memaknai Nyadran sebagai doa bersama agar diberi keselamatan dan keberkahan. “Masyarakat mengharap berkah dan keselamatan selama satu tahun ke depan,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan dimulai jauh sebelum hari puncak. Pada Minggu, 15 Februari 2026, warga melaksanakan aksi gotong royong membersihkan lingkungan dusun. Mulai dari membersihkan jalan, selokan, hingga area punden, seluruh masyarakat turun tangan. Semangat kebersamaan ini menjadi penanda bahwa tradisi bukan hanya soal ritual, namun juga kolaborasi warga untuk menjaga lingkungannya.
Pada Senin, 16 Februari 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian dan kirim doa di Masjid Al Falah Ngawi. Pengajian ini menjadi ruang spiritual bersama untuk memohon kelancaran acara puncak sekaligus menjadi pengingat pentingnya nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat di Dusun Ngawi.
Acara puncak Nyadran berlangsung pada Selasa Kliwon, 17 Februari 2026 pukul 14.00 wib di Punden Mbah Rogo. Warga mulai memadati lokasi sejak siang hari, membawa berbagai perlengkapan untuk kenduri dan mengikuti jalannya prosesi. Suasana khidmat terasa sejak awal acara, menandakan betapa kuatnya ikatan masyarakat dengan tradisi leluhur.
Tradisi nyadran digelar sebagai bagian dari rangkaian utama Nyadran. Tayuban ini diiringi musik gamelan dan tarian tradisional yang mencerminkan kehidupan budaya masyarakat Jawa. Bagi warga, tayuban bukan sekadar hiburan, tetapi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dan kesehatan. Musik gamelan yang mengalun lembut menambah suasana syahdu sekaligus meriah.
Hadir dalam acara ini Kepala Desa Ngawi, perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta para tokoh masyarakat. Kehadiran berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya menjadi milik warga dusun, tetapi juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa.
Kepala Desa Ngawi, Eko Budi Sudarmanto menegaskan pentingnya melestarikan tradisi sebagai identitas budaya dan pemersatu warga. Menurutnya, Nyadran membawa nilai-nilai luhur yang harus dijaga lintas generasi. Ia menambahkan bahwa kegiatan seperti ini mampu memperkuat solidaritas dan mempererat hubungan sosial antarwarga.
Acara Nyadran ditutup dengan kenduri atau bancaan yang dilaksanakan di lingkungan punden. Warga berkumpul untuk menikmati hidangan yang dibawa secara sukarela. Momen makan bersama ini menjadi simbol kebersamaan, keikhlasan, serta ungkapan syukur atas anugerah yang telah diterima. Dengan berakhirnya kenduri, rangkaian Nyadran Dusun Ngawi resmi ditutup, meninggalkan harapan agar tradisi ini tetap lestari dari generasi ke generasi.